Kisah Seorang Dermawan Memberi Sedekah Pada Orang yang Tidak Tepat

Kisah Seorang Dermawan Memberi Sedekah Pada Orang yang Tidak Tepat


Untuk tantangan kali ini saya akan barbagi kisah yang menurut saya sangat menarik dan syarat akan makna dan banyak sekali pembelajaran yang kita dapatkan. Ini mengenai seorang laki-laki yang ingin bersedekah namun diberikan bukan pada orang yang tepat.

Tadinya sih, saya mau menulis manfaat dan kelebihan sedekah, tapi selagi mencari referensi di situ saya manemukan kisah ini, merupakan cerita dari hadis yang diriwayatkan oleh Iman Bukhori.

Sumber foto NU Online (aliaarf.com)
Imam Bukhari meriwayatkan, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: ''Seorang laki-laki berkata, ``Sungguh saya akan bersedekah.`' Lalu ia pergi membawa sedekahnya. Ia meletakkannya di tangan pencuri. Pada pagi harinya orang-orang membicarakan, ``Seorang pencuri diberi sedekah.`' Ia berkata, ``Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Sungguh saya akan bersedekah.``

Lalu ia pergi membawa sedekahnya dan meletakkannya di tangan wanita pezina. Di pagi hari orang-orang membicarakannya, ``Malam ini seorang pezina diberi sedekah.`' ia berkata, ``Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Sedekahku jatuh di tangan wanita pezina. Sungguh saya akan bersedekah.`

Kemudian ia pergi membawa sedekahnya dan dia meletakkannya di tangan orang berada. Pada pagi harinya orang-orang membicarakan, ``Seorang kaya diberi sedekah.`` Ia berkata, ``Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Pada pencuri, wanita pezina, dan orang kaya.``

Di malam harinya dia didatangi dalam mimpi, dan dikatakan padanya. ''Adapun sedekahmu kepada pencuri, semoga itu bisa membuatnya insyaf dari mencuri. Sedekah pada wanita pezina, semoga dapat membuatnya sadar dari zinanya. Adapun sedekah ke orang kaya, semoga dia mengambil pelajaran dan ia berinfak dari apa yang Allah berikan padanya.``

Masya Allah, sungguh berkah yang didapat karena ketulusan dan kesungguhannya bersedekah. Bila di telaah lagi kisah ini, ia adalah orang yang dermawan yang ingin sedekah namun salah sasaran. Hal ini dikarenakan beliau ingin bersedekah secara sembunyi-sembunyi.

Adapun yang kita ketahui terdapat dua macam sedekah terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 271 yang artinya; Jika kamu menampakkan sedekah (mu), maka itu ialah baik sekali. Dan bila kamu menyembunyikannya dan diberikan pada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik untuk mu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu dan Allah mengetahui apa yang kamu lakukan.

Oleh karena itulah laki-laki ini ingin bersedekah secara sembunyi-sembunyi pada malam hari, tentu saja malam hari yang gelap gulita, ia sama sekali tidak melihat siapa yang diberi sedekahnya. Dalam benaknya hanya ingin sedekah tulus karena Allah tapi sayangnya yang menerima sedekahnya salah alamat.

Pada malam hari ia pergi dengan niat sedekah mengharap pahala pada Allah SWT, namun yang menerima sedekahnya itu pencuri, pezina dan orang berada atau orang kaya. Tapi karena niatnya lurus karena mengharap ridho dan pahala dari Allah SWT sedekah yang salah orang itu diterima Allah Azawajallah.

Dari kisah inspiratif ini sangat relevan dalam upaya kita untuk membangun maupun mengajarkan karakter kedermawanan kepada anak-anak pada umumnya dan khususnya untuk anak-anak kita. Paling tidak, dari kisah di atas terdapat tiga pesan berharga di dalamnya, antara lain;

Pertama, dasar utama dari segala perbuatan baik, ialah ketulusan atau keikhlasan semata-mata karena Allah SWT. Dan di dalam Al-Qur'an disebutkan dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 yang artinya Dan tidaklah mereka diperintah kecuali supaya menyembah Allah SWT dengan memurnikan keta'atan pada-Nya dalam (menjalankan) agar dengan ikhlas dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Menjaga keikhlasan hati dan di dalam perbuatan kebajikan yang sering dinodai oleh penyakit hati, yaitu riya dalam arti selalu ingin dilihat dan sum'ah atau ingin dipuji, yang akhirnya menjadi 'ujub yakni kagum pada dirinya sendiri. Penyakit hati seperti itulah yang harus kita enyahkan dalam diri kita.

Kedua, bila sedekah itu untuk seseorang, lebih diutamakan sembunyi-sembunyi. Seseorang akan mendapat perlindungan dari Allah Azza Wa Jallah pada hari kiamat nanti karena sedekah dengan diam-diam hingga diumpamakan layaknya tangan kiri yang tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kanan. (HR. Bukhari).

Namun apabila kamu mampu menjaga hati, sedekah terbuka atau terang-terangan juga tetap diperbolehkan bahkan dianjurkan. Pastinya dengan tujuan agar dapat diambil hikmahnya supaya orang lain pun ikut turut tergerak untuk bersedekah dengan penuh keikhlasan dan banyak-banyak bersyukur kepada-Nya dengan menyebut nama-Nya.

Dalam Firman Allah surat Adh-Dhuhaa ayat 11 yang artinya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebut-Nya. (dengan bersyukur).

Ketiga, sedekah yang tulus takkan diabaikan dan pasti mendapat ganjaran pahala dari Allah Azawajalla. sebab, dengan bersedekah akan memberi dampak positif tersendiri pada penerimanya, apapun latar belakangnya, status sosial, dan bahkan agamanya. Kalau kita mengambil dari kisah seorang dermawan yang salah sasaran sedekah menegaskan, walaupun diterima seorang pencuri, pelacur dan orang kaya, terselip secercah harapan dalamnya.

Dan tak perlu kamu risaukan siapa yang akan menerima sedekahmu karena sedekah ini akan bernilai kebajikan dan sebagai tanda syukur atas segala nikmat Allah SWT. Sungguh sedekah yang diberikan dengan tulus dan ikhlas takkan pernah salah alamat dan selalu memberi maslahat untuk penerimanya.

Tentulah, Allah SWT akan memberi balasan yang berlipat ganda pada orang-orang tersebut di dunia dan akhirat kelak. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah yang artinya berikut ini;

Al-Quran surat, Al-Baqarah ayat 261 yang artinya ialah; ''Perumpamaan pada nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ialah seperti halnya dengan satu bulir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, di tiap bulirnya seratus biji. Allah melipat gandakan pahala atau ganjaran bagi siapa yang Ia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.''

Al-Quran surat, Al-Baqarah ayat 262 yang artinya yaitu; 'Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah SWT, lalu mereka tak mengiringi apa yang dinafkahkan itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya itu dan dengan tak menyakiti perasaan si penerima maka mereka mendapatkan pahala di sisi Tuhan mereka. Tak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak ada pula mereka bersedih hati.'

Demikianlah uraian dari kisah kegelisahan seorang dermawan di masa lampau dengan sedekahnya yang tidak tepat atau salah sasaran. Semoga kisan tersebut bermanfaat dan menambah keimanan kita, khususnya di dalam mengamalkan sedekah dengan hati yang tulus dan ikhlas.

Sumber referensi rasyiambumen.com dan republika.co.id

Aliaarf.com

No comments:

Post a Comment

Followers

SUBSCRIBE